Mitreka Satata - SMA Negeri 1 Malang Official Site

Berita Sekolah

  Selasa, 7 September 2010

Sejarah


gedungSeperti telah kita ketahui, bahwa sejarah adalah rangkaian peristiwa masa lalu hingga masa sekarang. Setiap peristiwa tidak dapat berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan, sehingga suatu keadaan pasti ada hubungannya dengan peristiwa sebelumnya dan mengakibatkan keadaan berikutnya.

Oleh karena itu untuk menguraikan sejarah SMA Negeri 1 Malang akan kita singgung sedikit sekolah-sekolah sebelumnya, untuk sekedar mengetahui adanya kesinambungan di samping menambah wawasan kita.

Jika dalam uraian di bawah ini kita sebutkan juga nama-nama sekolah lain yang ada hubungannya dengan SMA Negeri 1 Malang, baik langsung maupun tidak langsung, hal itu kita maksudkan untuk mempererat persatuan di antara SMA Negeri yang ada di Malang ini, juga kita berharap akan bisa menjadi media menuju ke arah kemajuan bersama.

Masa Penjajahan Belanda

Sejak zaman penjajahan Belanda Malang sudah merupakan satu kota di Indonesia yang memiliki sekolah lanjutan tingkat atas.

Sekolah yang diperuntukkan bagi bangsa Indonesia disebut dengan istilah Algemene Midelbare School (AMS), sedangkan sekolah bagi orang-orang Belanda dan orang Eropa lainnya disebut Hogere Burger School (HBS). Namun kedua sekolah lanjutan itu tamat riwayatnya bersamaan dengan takluknya pemerintah Belanda, tentara Jepang pada tahun 1942.

Masa pendudukan tentara Jepang.

Setelah tentara Jepang menguasai Indonesia , kota Malang tidak segera mempunyai sekolah lanjutan. Baru pada tahun 1944, Kepala Pemerintahan Umum Tentara Pendudukan Jepang minta kepada Mr. Raspio untuk mendirikan Sekolah Menengah Tinggi (SMT).

Mr.Raspio, pegawai Pemerintah Jepang bagian pendiri koperasi di daerah-daerah, berhasil menghimpun sekitar 90 orang anak laki-laki dan perempuan diterima sebagai murid untuk dijadikan dua kelas. Maka berdirilah sebuah SMT yang menempati gedung di Jalan Celaket 55 Malang yang sekarang menjadi SMAK Cor Jesu, Jalan Jaksa Agung Suprapto 55 sekarang. Sebagian besar pengajarnya adalah tenaga pinjaman dari berbagai instansi pemerintah. Yang berstatus guru tetap hanyalah 3 orang yakni Bapak Sardjoe Atmodjo, Bapak Goenadi, dan Bapak Abdoel Azis. Disamping itu ada seorang mahasiswa ITB yang mengajar di sekolah itu juga.

Setelah Mr.Raspio diangkat sebagai Kepala Kemakmuran Malang, maka pimpinan sekolah diserahkan kepada Bapak Soenardjo. Ketika Jepang takluk kepada sekutu, murid-murid SMT tersebut ikut pula melucuti tentara Jepang dan merebut kekuasaannya.

Pada tanggal 10 November 1945, Surabaya dibom oleh Inggris. Pecahlah revolusi, banyak murid SMT Surabaya yang menyingkir ke Malang , sehingga kelas menjadi besar. Dalam tahun 1946 SMT tersebut pindah ke gedung di Jalan Alun-alun Bundar Tugu Utara No 1 Malang.

Masa pendudukan pemerintah Belanda

Pada hari Senin, tanggal 21 Juli 1947, Belannda melancarkan aksi Militer yang pertama, Republik Indonesia diserangnya. 10 hari kemudian, pada hari kamis, 31 Juli 1947, Belanda berhasil merebut Kota Malang. Namun mereka mendapatkan sebagian besar Kota Malang yang telah hancur, sebab dua hari sebelumnya banyak gedung yang dibumihanguskan, tidak luput juga gedung SMT di Alun-alun Bundar ini, bangku-bangku disirami dengnan bensin dan dibakar habis. Dan sejak itu pula, Sekolah Menengah Tinggi produk Jepang itu habis riwayatnya tanpa bekas. Sementara Belanda menduduki Malang , mereka mendirikan VHO (Voorberindend Hoger Ondewijs = Persiapan Pendidikan yang lebih Tinggi).

Sekolah tersebut dikemudian hari setelah Malang kembali dikuasai pihak Republik, dinasioanalisasikan menjadi SMA B, dibawah pimpinan Bapak Poerwadi, dan pada akhirnya menjadi SMA Negeri 2 Malang yang sekarang ini.

Ketika masa pendudukan tersebut, dipihak Republik tidak ada sekolah, Kantor P & K berkedudukan di Sumber Pucung kabupaten Malang . Maka tampillah seorang tokoh pendidikan Bapak Sardjoe Atmodjo, menghimpun anak-anak yang tidak menentu studinya itu untuk mendirikan sekolah. Hanya dengan tujuh orang murid, maka sekolahpun berjalan. Namun sekolah tersebut tidak mempunyai gedung, sehingga proses belajar-mengajar berpindah-pindah dari rumah ke rumah. Bapak Sardjoe Atmodjo mengajar di rumah beliau di Jalan Kasin. Kalau yang mengajar Bapak Emen Abdoellah Rachman, maka murid-murid dating ke rumah beliau di Jalan Tongan. Atau kadang-kadang mereka harus dating di SD Muhammadiyah di Jalan Kawi, kalau yang mengajar Bapak Haridjaja atau Bapak Soeroto. Honorariun bagi guru hanya Rp. 20,00 (dua puluh rupiah) ORI (Oeang Repoeblik Indoensia), sebab uang sekolahpun tidak menentu, semampu murid membayarnya. Pembayaran uang sekolah juga tanpa kwitansi segala, karena tidak ada tata usaha, sungguh merupakan sekolah perjuangan, baik bagi murid maupun bagi guru. Untuk meringankan beban hidup para guru, Dokter Soerodjo acapkali memberi bantuan berupa makanan dalam kaleng.

Walaupun demikian menderitanya, namun para guru tidak gelisah dalam mengajar, berkat rasa pengabdian mereka pada perjuangan bangsa. Dalam masa perkembangannya, SMT itu pernah menempatoi gedung di Jalan Kasin-SMA Erlangga sekarang dan mempunyai kelas jauh di SD Ngaglik, Sukun.

Pemerintah Belanda membuat peraturan, sekoalah yang tidak berlindung pada suatu yayasan dianggap sekolah liar dan harus bubar. Pimpinan sekolah tidak kehabisan akal, maka memakailah nama SMT BOPKRI (Badan Oesaha Pendidikan Kristen Indonesia), suatu yayasan yang ada pada zaman Belanda sudah ada. Jadi mempunyai “Hak Sejarah” (Historisrecht). Artinya hanya sekolah-sekoalah yang ada pada zaman Belanda dahulu sudah mendapatkan izin saja yang boleh terus buka. Ijin memakai BOPKRI diberikan oleh Dominee Harahap. Namun SMT tidaklah memakai nama BOPKRI karena Dominee Harahap sendiri diusir oleh Belanda ke Sumber Pucung daerah Republik. Akhirnya SMT ini berpindah nama menjadi SMT PGI (Persatoean Goeroe Indonesia, perubahan dari Persatoean Goeroe Hindia Belanda, pada tahun 1932).

Demikian siasat perjuangan pimpinan sekolah. Dengan cara apapun ditempuh demi kelangsungan hidup SMT yang merupakan salah satu alat perjuangan bangsa. Sementara itu SMPT yang tumbuh bersamaan waktu dengan SMT PGI mendapatkan tempat yang tepat di Jalan Kelut. Rumah kembar berlantai 2 milik Dr.Poedyo Soemanto dipinjamkan kepada kedua sekolah tersebut. Dengan maksud agar selalu dapat mengawasi kedua sekolah itu, belanda menjanjikan mereka memberi subsidi. Kalau tidak mau menerimanya, sekolah harus ditutup. Ini suatu fitnah yang licik. Maka atas pertimbangan dan saran dari “Tokoh dalam Kota” (Beberapa tokoh Republiken yang bergerilya dalam kota), hanya SMP nya saja yang boleh menerima subsida itu, sedangkan SMT nya tidak. Konsekuensi dari keputusan itu maka SMT PGI harus ditutup dan bubar. Ini hanya siasat dari pimpinan. Sebab sebenarnya SMT PGI tetap ada walaupun hanya sebagai SMT banyangan. Memang dimata Belanda SMT PGI sudah ditutup, namun dalan kenyataannya tetap ada. Subsidi yang didapatkan dari Belanda dipergunakan oleh SMP dan SMTPGI bersama-sama. Tidak lama kemudian kedua sekolah itu berpindah ke kidul pasar, di Gedung SLTP Negeri 2 Malang sekarang ini. Disana sekolah berjalan sampai saat pengakuan kedaulatan terjadi. Serta merta berkibarlah Sang Merah Putih dihalaman Sekolah. Itulah Merah Putih pertama kali yang berkibar di Malang, sejak Kota ini diduduki oleh Belanda pada tahun 1947.

Ternyata Jiwa Republik tidak kunjung padam. Manakala ada kesempatan, maka menggeloralah dengan dahsyatnya jiwa merdeka bangsa. Dalam perkembangan selanjutnya, SMT PGI berpindah tempat lagi di Jalan Arjuno, di Gedung SLTP Negeri 8 Sekarang. Sedangkan SMP PGI tetap di Kidul Pasar. Tidak lam kemudian SMT PGI menempati gedung di Jalan Alun-alun Bunder Tugu Utara nomor 1. Dan setelah mengalami jatuh bangunnya perjuangan mempertahankan kelangsungan hidupnya,maka pada hari Senin Kliwon tanggal 17 April 1950 SMT PGI diresmikan menjadi SMA Negeri oleh Pemerintah Republik Indonesia. Adapun yang menjadi Kepala Sekolah Pertama adalah Bapak G.B Pasariboe.

Walaupun yang memimpin sekolah bukan Bapak Sardjoe Atmodjo, namun beliau kita anggap sebagai perintis SMA Negeri 1 Malang, karena sesudah SMT produk Jepang tamat riwayatnya, ketika Belanda merebut Kota Malang pada tanggal 31 Juli 1947 dahulu, beliaulah yang menghimpun murid mengawali berdirinya suatu sekolah, walaupun hanya bermodalkan 7 orang saja.

Kini Bapak Sardjoe Atmodjo telah tiada, jasadnya telah hilang di sapu masa. Namun karya jerih payahnya telah diwariskan kepada kita untuk dilestarikan dan ditumbuhkembangkan menuju prestasi yang gemilang.

Kecuali Bapak Sardjoe Atmodjo masih ada nama lain yang perlu kita catat dan ingat sebgai kenangan terhadap jasa-jasa beliau karena ikut mendukung tumbuh dan berkembangnya sekolah kita beliau adalah :

  1. Dr. Soerodjo
  2. Dr. Poedyo Soemanto
  3. Dr. Hadi
  4. Ir. Tahir
  5. Haji Djarhoem
  6. Raspio
  7. Mr. Njono Prawoto
  8. Haridjaja
  9. Soeroto
  10. Emen Abdoellah Rachman
  11. Dominee Harahap

Masa Kemerdekaan Republik Indonesia

Pada tahun 1050, gedung SMA Negeri di jalan Alun-alun Bunder nomor 1 oleh tiga sekolah, yakni :

  1. SMA Negeri pimpinan Bapak G.B Pasariboe, yang pada waktu itu dikenal orang dengan istilah “SMA Republik”
  2. SMA Negeri Pimpinan Bapak Poerwadi.
  3. SMA Peralihan pimpinan Bapak Oesman

Murid SMA peralihan terdiri dari pemuda pejuang yang tergabung dalam TRIP dan kesatuan Tentara Pelajar yang lain.

Pada hari Jum'at Tanggal 8 Agustus 1952, murid jurusan B (ilmu pasti) dari SMA Republik dipindahkan dan dijadikan sekolah baru dengan pimpinan Bapak Koeswandono, bersamaan dengan SMA pimpinan Bapak G.B Pasariboe. Sehingga nama SMA yang ada di Alun-alun Bunder menjadi :

  1. SMA Negeri 1-A/C, pimpinan Bapak G.B Pasariboe
  2. SMA Negeri II-B, pimpinana Bapak Poerwadi
  3. SMA Negeri III-B, pimpinan Bapak Oesman

SMA peralihan harus ditutup pada Tahun 1954 karena murid pemuda pejuang telah tiada, lulus semua.

Pada hari Slasa, Tanggal 16 September 1958, SMA Negeri I-A/C dipecah menjadi dua, maka lahirlah SMA IV-A/C, dengan pimpinan Bapak Goenadi. Lokasi dijalan Kota Lama 34 Malang, SMA Negeri II sekarang

Pada hari Jum'at tanggal 1 April 1977 Filial SMA Negeri Kepanjen diresmikan sebagai SMA Negeri Kepanjen dengan kepala sekolah yang pertama Bapak Drs. M.Moenawar.

SMA Negeri III membina sekolah baru dan akhirnya sekolah tersebut menjadi SMA Negeri V Malang, dengan kepala sekolah yang pertama Bapak Moch. Imam. Tahun 1975 SMA Negeri III juga membuka Filial di Lawang yang akhirnya menjadi SMA Negeri Lawang.

SMA Negeri IV membina SMA di Batu, pada tahun 1978 diresmikan sebagai SMA Negeri dengan kepala sekolah yang pertama Bapak Drs.Moch.Chotib

Kalau pada tahun 2000, keluarga Mitreka Satata memperingati hari jadi SMA Negeri I Malang yang ke-50 ( lima puluh), maka selama ini sudah ada beberapa tokoh yang pernah memimpin sekolah ini, yakni :

  1. Bapak Sardjoe Atmoedjo, perintis SMA Negeri I, 1947 – 1950
  2. Bapak G.B Pasariboe, kepala sekoalah ke- 1, 1950 – 1952
  3. Bapak A.Djaman Hasibuan, kepala sekolah ke- 2, 1953 – 1965
  4. Bapak Sikin, kepala sekolah ke- 3, 1965 – 1971
  5. Bapak Drs.Abdul Kadir, kepala sekolah ke- 4, 1971 – 1981
  6. Bapak Soewardjo, PLH kepala sekolah, 1981 – 1984
  7. Bapak Drs.Abdul Rachman, kepala sekolah ke-5, 1981 – 1986
  8. Bapak Drs.H.Moch.Chotib, kepala sekolah ke-6, 1986 – 1991
  9. Bapak Abdul Syukur, BA, PLH, kepala sekolah 1991
  10. Bapak Soenardjadi, BA, kepala sekolah ke-7, 1991 – 1993
  11. Bapak Drs.Munadjad, kepala sekolah ke-8, 1993 – 1998
  12. Bapak Drs.Sagi Siswanto, kepala sekolah ke-9, 1998 – 2004
  13. Bapak Drs.Moch.Nursalim,M.Pd, PLH, kepala sekolah 2004
  14. Bapak Drs.Tri Suharno, kepala sekolah ke-10 (13 Juni 2004 – 14 Juni 2005)
  15. Bapak Drs.H.Moh.Sulthon,M.Pd, kepala sekolah ke-11 (18 Juni 2005 – Sekarang)

Demikianlah paparan sejarah singkat berdirinya SMA Negeri I Malang, yang juga mengungkapkan juga kelahiran beberapa sekolah lain yang berhubungan, sehingga kita tahu bahwa SMA-SMA Negeri di Malang ini kebanyakan adalah sesaudara pada mulanya, sehingga wajar jika langkah-langkah selanjutnya akan diisi dengan hal-hal yang mengarah pada adanya kerjasama guna memupuk rasa persatuan menuju terciptanya kemajuan bersama. Salam Mitreka Satata

Last Update: 27-04-2009 03:58